Peran Penting Amar Ma’ruf Nahi Munkar dalam Islam

Agama Islam diturunkan oleh Allah swt kepada Nabi Muhammad saw untuk mengatur hubungan manusia dengan Alah, dengan dirinya, dan dengan sesamanya. Dari definisi singkat ini kita bisa memahami bahwa secara umum, agama ini hanya berisi dua hal saja, yaitu Ikhbar dan Insya. Ikhbar adalah berita-berita dari Allah tentang keesaan-Nya, sifat-sifat-Nya, dan berbagai perkara-perkara ghaib yang wajib kita imani. Insya adalah perintah dan larangan yang dikehendaki Alah agar dilakukan oleh semua manusia.

Posisi Penting Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Perintah dan larangan adalah dua tugas agung yang diberikan pada umat Islam. Melalui kedua tugas ini, terangkatlah derajat seorang manusia.

كُنتُم خَيرَ أُمَّةٍ أُخرِجَت لِلنّاسِ تَأمُرونَ بِالمَعروفِ وَتَنهَونَ عَنِ المُنكَرِ وَتُؤمِنونَ بِاللَّـهِ ۗ وَلَو آمَنَ أَهلُ الكِتابِ لَكانَ خَيرًا لَهُم ۚ مِنهُمُ المُؤمِنونَ وَأَكثَرُهُمُ الفاسِقونَ ﴿١١٠

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (Ali Imran: 110)

Begitu pentingnya Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar sehingga Rasul saw sendiri memasukkannya sebagai definisi Islam.

“Islam itu delapan bagian, Islam satu bagian, shalat satu bagian, zakat satu bagian, puasa Ramadhan satu bagian, haji ke Baitullah satu bagian, dan amar’ ma’ruf satu bagian, nahi munkar satu bagian, dan jihad satu bagian. Celakalah orang yang tidak mempunyai bagian.” (HR. Abu Ya’la)

Kata ma’ruf mencakup semua yang dituntut dan diperbolehkan oleh syariat Islam, baik berupa kewajiban (fardhu), sunnah, atau mubah. Sedangkan kata munkar mencakup semua yang tidak diperbolehkan oleh syariat atau yang diperintahkan oleh Allah untuk dihindari dan disingkirkan, termasuk hal-hal yang haram dan makruh.

Amar Ma’ruf Nahi Munkar dan Peran Agama di Ruang Publik

Keberadaan amar ma’ruf nahi munkar menegaskan bahwa Agama Islam tidak terbatas hanya di ranah individu saja, sebagaimana dugaan beberapa orang sekuler. Orang-orang sekuler ini memahami bahwa agama hanyalah urusan individu sehingga memperbolehkan maksiat asalkan tidak merugikan masyarakat. Mereka juga memperbolehkan pelacuran dengan alasan demi kemaslahatan para pria hidung belang. Mereka juga memperbolehkan minum khamr di tempat-tertentu dengan alasan bahwa itu hak asasi manusia yang dilindungi undang-undang.

Padahal, seandainya Agama Islam memang hanya terbatas untuk individu-individu saja tentu tidak akan ada Amar Ma’ruf Nahi Munkar. Bukankah setiap manusia bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri? Tapi, jelas bahwa Allah menjadikan kedua tugas ini sebagai fardhu kifayah.

وَلتَكُن مِنكُم أُمَّةٌ يَدعونَ إِلَى الخَيرِ وَيَأمُرونَ بِالمَعروفِ وَيَنهَونَ عَنِ المُنكَرِ ۚ وَأُولـٰئِكَ هُمُ المُفلِحونَ ﴿١٠٤

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (Ali-Imron: 104)

Ayat ini pun menjadi landasan bagi berdirinya berbagai partai ataupun ormas Islam yang aktif dalam amar ma’ruf dan nahi munkar. Seandainya tidak seorang pun melakukan aktivitas ini, niscaya Allah swt akan menimpakan adzabnya pada seluruh manusia.

سنن الترمذي ٢٠٩٤: إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوْا الظَّالِمَ فَلَمْ يَأْخُذُوا عَلَى يَدَيْهِ أَوْشَكَ أَنْ يَعُمَّهُمْ اللَّهُ بِعِقَابٍ مِنْهُ

Sunan Tirmidzi 2094: “Sesungguhnya, apabila manusia melihat seorang yang melakukan kezhaliman, namun mereka tidak mencegahnya, atau ragu-ragu, maka Allah akan meratakan siksaan-Nya (menimpakan siksaan kepada mereka semua).”

Pelaksanaan Amar Ma’ruf Nahi Munkar Bertingkat-tingkat

Rasul memerintahkan amar ma’ruf pada semua individu muslim, baik dalam kondisi lemah atau kuat.

صحيح مسلم ٧٠: مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ

Shahih Muslim 70: “Barangsiapa di antara kamu melihat kemungkaran hendaklah ia mencegah kemungkaran itu dengan tangannya. jika tidak mampu, hendaklah mencegahnya dengan lisan, jika tidak mampu juga, hendaklah ia mencegahnya dengan hatinya. Itulah selemah-lemah iman.”

Kondisi terakhir –mengingkari dengan hati– berarti seseorang wajib membenci kemungkaran tersebut. Ini adalah kewajiban terendah yang tidak gugur terhadapnya. Setelah itu, tidak ada lagi yang rendah. Artinya, itulah batas terendah seseorang terhadap kemunkaran. Bagi yang tidak melakukannya –mengingkari dengan hati– maka binasalah dirinya.

Faktanya, saat ini ada banyak kemunkaran yang tidak mungkin lagi dihapuskan dengan tangan-tangan manusia biasa. Siapa yang bisa menutup produksi dan jalur distribusi khamr? Siapa yang bisa menghentikan lokalisasi pelacuran? Siapa yang bisa menghentikan orang-orang liberal dan sekuler terhadap Allah dan Rasul-Nya? Siapa yang bisa menghentikan peredaran riba dari bank-bank konvensional?

Tanpa disertai kekuasaan, tidak seorang pun yang sanggup. Apalagi jika kekuasaan itu ternyata di belakang mereka. Oleh karena itu, tuntutan aktivitas amar ma’ruf dan nahi munkar pun tidak sama. Wajar saja jika kewajiban terbesar ada di tangan para penguasa. Bahkan ada kewajiban tertentu yang hanya berlaku bagi mereka dan bagi selainnya.

Dibutuhkan Kekuasaan untuk Menyempurnakan Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Di zaman Khulafaur Rasyidin, ada banyak riwayat bagaimana khalifah turun tangan langsung dalam mencegah kemunkaran. Khalifah bukan sekadar simbol yang cukup muncul di pembukaan acara dan peresmian gedung untuk kemudian kembali ke istananya. Khalifah adalah wakil umat yang akan menegakkan hukum Allah dan mengajak manusia dari penghambaan terhadap sesama manusia ke penghambaan kepada Allah swt.

Begitu pentingnya perkara ini sehingga Allah swt memerintahkan kita untuk memilih pemimpin paling layak, yang tidak diangkat atas dasar pertalian darah, kesukuan, atau nasionalismenya. Pemimpin yang layak haruslah dilihat dari pemahamannya dan ketaatannya pada Hukum Syariah.

Kekuasaan dalam perspektif Islam bukanlah ditujukan untuk meraih sebesar-besarnya keuntungan materi. Kekuasaan dalam perspektif Islam adalah jalan menuju penyempurnaan tegaknya Agama Allah. Sebagaimana yang dikatakan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah:

Perlu Anda ketahui bahwa asas kaidah Amar Ma’ruf Nahi Munkar adalah bahwa semua kekuasaan dalam Islam bertujuan agar ketaatan (ad-Dien) itu seluruhnya hanya milik Allah dan agar kalimat Allah berada di posisi tertinggi.

وَلَقَد بَعَثنا في كُلِّ أُمَّةٍ رَسولًا أَنِ اعبُدُوا اللَّـهَ وَاجتَنِبُوا الطّاغوتَ ۖ﴿٣٦

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu” (An Nahl: 36)


Referensi:
1. Syaikh Ibnu Taimiyyah, Majmuah Al-Fatawa
2. Sa’id Hawwa, Al-Islam
3. Amar Ma’ruf Nahi Mungkar (1)

Foto:
1. Clear water

Iklan

Tag:

About jeprie

Mohammad Jeprie adalah seorang penulis, desainer grafis. Jeprie aktif mendesain, menulis buku, membuat layout buku, mengajar pelatihan desain, dan banyak lagi. Bisa dihubungi melalui WhatsApp (+62-777-8765-834) atau email.

Trackbacks / Pingbacks

  1. Sirah Nabawiyah. Part 1: Buat apa? | Last Imperfection - Maret 12, 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: